1-Infrastruktur

1. Infrastruktur

1.1. Definisi infrastruktur

”Infrastruktur” mengacu pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara ekonomi dan sosial.

Socrates: ”In order to function it all, a person needs the facilities and arrangements available from community, security, institutions, and economic goods, and that these can only be available when individuals support the concepts of community and the responsibilities that it entails”.

Infrastruktur: ”elemen dasar dari suatu kota; bangunan utama dari suatu kegiatan; bangunan penunjang kegiatan”.

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.378/1987 tentang Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, Lamp.22: ”Prasarana Lingkungan adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, saluran air hujan, pembuangan sampah, jaringan listrik”.

Keputusan Menteri Dalam Negeri No.59/1988 tentang Petunjuk Pelaksanaan PerMenDagri No.2/1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota: ”Sistem utama jaringan utilitas kota (pola jaringan fungsi primer dan sekunder) seperti air bersih, telepon, listrik, gas, air kotor/drainase, air limbah

Grigg (1988): ”Those physical facilities that are sometimes called public works”.

Hudson, et al. (1997): American Public Works Association (APWA) menyatakan bahwa ”public works are the physical structures and facilities that are developed or acquired by the public agencies to house governmental functions and provide water, power, waste disposal, transportation, and similar services to facilitate the achievement of common social and economic objectives”.


Nation Science Foundation (NSF 94): “A civilization’s rise and fall is linked to its ability to feed and shelter its people and defend itself. These capabilities depend on infrastructure – the underlying, often hidden foundation of a society’s wealth and quality of life. A society that neglects its infrastructure loses the ability to transport people and food, provide clean air and water, control disease, and conduct commerce”.

Hudson, et al. (1997): Associated General Contractors of America (AGCA 82) menyatakan bahwa infrastuktur adalah ”A system of public facilities, both publicy or privately funded, which provide for delivery of essential services and a sustained standard of living”.

Kelompok Bidang Keahlian Manajemen Rekayasa Konstruksi ITB (2001): ”Infrastruktur (prasarana) adalah bangunan atau fasilitas fisik yang dikembangkan untuk mendukung pencapaian tujuan sosial dan ekonomi suatu masyarakat atau komunitas”.

Fidel Miro: ”Sistem adalah suatu kesatuan unit, suatu integrasi yang bersifat komprehensif (luas) yang terdiri dari elemen-elemen, unsur-unsur, sub-unit dimana saling mendukung dan bekerja sama membuat timbulnya integrasi dan sistem tadi”.

Sistem infrastruktur adalah kumpulan sub-sistem infrastruktur atau kumpulan elemen infrastruktur yang saling berinteraksi untuk tujuan tertentu.

Termasuk dalam pengertian infrastruktur adalah fasilitas transportasi, bangunan institusional dan komersial, bangunan irigasi, drainase dan pengendali banjir, fasilitas air bersih dan air kotor, fasilitas penanganan limbah padat, pembangkit energi dan distribusinya, fasilitas telekomunikasi, fasilitas olah raga dan rekreasi, serta infrastruktur kawasan permukiman.

Hudson, et al. (1997): Infrastruktur mencakup tujuh hal, yaitu: ”transportation, waste and waste water, waste management, energy production and distribution, buildings, recreation facilities, communication”.

Enam kategori besar infrastruktur (Grigg):

1) Kelompok jalan (jalan, jalan raya, jembatan);

2) Kelompok pelayanan transportasi (transit, jalan rel, pelabuhan, bandar udara);

3) Kelompok air (air bersih, air kotor, semua sistem air, termasuk jalan air);

4) Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat);

5) Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga luar;

6) Kelompok produksi dan distribusi energi (listrik dan gas);

Fasilitas fisik (Grigg):

1) Sistem penyediaan air bersih, termasuk dam, reservoir, transmisi, treatment, dan fasilitas distribusi;

2) Sistem manajemen air limbah, termasuk pengumpulan, treatment, pembuangan, dan sistem pemakaian kembali;

3) Fasilitas manajemen limbah padat;

4) Fasilitas transportasi, termasuk jalan raya, jalan rel dan bandar udara. Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol;

5) Sistem transit publik;

6) Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusi;

7) Fasilitas pengolahan gas alam;

8) Fasilitas pengaturan banjir, drainase, dan irigasi;

9) Fasilitas navigasi dan lalu lintas/jalan air;

10) Bangunan publik seperti sekolah, rumah sakit, kantor polisi, fasilitas pemadam kebakaran;

11) Fasilitas perumahan;

12) Taman, tempat bermain, dan fasilitas rekreasi, termasuk stadion.


1.2. Latar belakang sejarah

· 1790 – 1855 The development of urban networks and walking cities

· 1855 – 1910 The construction of the core infrastructure in central cities

· 1910 – 1955 The domination of the automobile and enlargement of th federal role

· 1955 – 1982 The rise of the outer city and recent trends

· 1982 – 2000 The development of telematics (combined technologies of telecommunication and computers)

Contoh Perkembangan di Amerika (lengkap)

18th: Mulai pembangunan jalan dan jembatan;

19th: Pengembangan infrastruktur utama sejalan dengan pertumbuhan ekonomi; penggunaan aspal, jalan kereta api (jarak jauh);

1900 – 1909: Prasarana kebersihan; pengenalan mesin bensin dan diesel; penerbangan pertama; subway pertama di New York; jalan beton pertama;

1910 – 1919: Dam Roosevelt; Bantuan pemerintah yang pertama; pajak BBM, Jalan bebas hambatan trans-benua, motor-grader, jalan beton, jalan bata;

1920 – 1929: Penggunaan ban karet pneumatic, terowongan, airport internasional, Great Depression;

1930 – 1939: Pembangunan besar-besaran konstruksi jalan bebas hambatan, Hoover Dam, Bonneville Dam, jembatan San Francisco; Golden Gate, PD II;

1940 – 1949: Penciptaan Pentagon, konstruksi lapang udara militer, Alaska Highway, Pennsylvania Turnpike, bom atom dan PLTN, konversi fasilitas militer menjadi fasilitas sipil;

1950 – 1959: Pembangunan jalan tol skala, jembatan prestressed pertama, jembatan segemntal pertama, penerapan sistem kontainer truk pada kereta api, PLTN swasta, telepon lintas benua, AASHO;

1960 – 1969: NASA, pembangunan PLTN skala besar, Urban Mass Transportation, national bridge-inspection standard, bridge-replacement program; Water Quality Act, National Environmental Protection Act;

1970 – 1979: Aviation Safety and Noise Abatement Act, Clean Air Act, Bay Area Rapit Transit (BART), aspahalt recycling;

1980 – 1989: Pembuatan jalan tanpa mengganggu lalu lintas, program 4R, fuel tax, gempa Mexico dan California;

1990 – 2000: Intermodal Surface Transportation Efficiency Act (maintenance, service life, management systems), New Denver International Airport, gempa besar (Los Angeles 1994, Kobe 1995), aplikasi GPS, radar kendaraan, standar emisi gas buang diperketat.


1.3. Krisis infrastructure

Penyebab:

· Kegagalan pembuatan (modal, desain, konstruksi/teknologi)

· Runtuh (ambruk, teknologi)

· Rusak/aus (umur, pemakaian, salah pakai)

· Bencana alam (banjir, gempa, kebakaran)

· Tidak ada penambahan/penyesuaian (kapasitas kurang)

· Tidak ada/minim pemeliharaan

· Usang (tidak sesuai, terlambat dibuat, perkembangan teknologi)

Kenyataan (Kesalahan manajemen):

· Pemotongan anggaran/investasi kurang

· Kesalahan pemilihan infrastruktur

· Pemakaian melewati umur/life-cycle tidak diperhatikan

· Kecenderungan mengabaikan pemeliharaan

· Mahalnya pemeliharaan (20 – 40% dari konstruksi baru)

· Teknologi (R&D) kurang berkembang

· Mahalnya teknologi baru


1.4. Kompleksitas perkotaan dan krisis infrastruktur

Paradigma Pembangunan

Paradigma: Suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dari suatu permasalahan/ cabang ilmu

Paradigma baru akan muncul bila timbul persoalan baru yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan paradigma lama

Pembangunan

· Pembangunan untuk semua masyarakat (asas kesejahteraan ekonomi)

· Pembangunan untuk seluruh masyarakat (asas keadilan ekonomi-sosial-budaya-politik)

· Pembangunan untuk masyarakat generasi mendatang (asas pelestarian lingkungan)

Tujuan Pembangunan: Menuju ke kondisi yang lebih baik

Proses Pembangunan:

· Linear stages model, internat, structuralist model

· Top-down, bottom-up

· Kekuatan sendiri, kemitraan (partisipasi masyarakat)

Wilayah/Kota sebagai tempat: kerja, tinggal, istirahat/rekreasi

Kota – Urban (Perkotaan):

· Kota: hukum, administrasi, fisik, town – city (Inggris)

· Urban: sosial, ekonomi, fisik

· Indonesia: kota – desa, perkotaan – perdesaan (urban – rural)

Paradigma Pembangunan:

Pembangunan untuk seluruh masyarakat

· Kesejahteraan seluruh masyarakat kota secara menyeluruh

Peningkatan kesejahteraan dasar – ekonomi kota

· Asas pertumbuhan ekonomi (output > input)

Sustainable economically

Pendekatan Pembangunan:

· Holistik: melibatkan sektor melalui iterasi

· Sektoral: semakin menguasai, semakin mudah proses holistik


Pembangunan untuk semua masyarakat kota

· Kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat

Pemerataan kesejahteraan terutama bagi masyarakat lemah:

· Lemah ekonomi – miskin

· Lemah fisik – ibu, balita, manula

· Lemah non-fisik – kebebasan berpikir, bersuara, beragama, berbudaya

· Asas keadilan ekonomi-sosial-budaya-politik

Sustainable ec-soc-culturally-pol

Pembangunan untuk masyarakat generasi mendatang

· Lingkungan buatan bernilai sejarah – warisan nenek moyang

· Lingkungan alam – bukan warisan nenek moyang tetapi titipan dari anak cucu/generasi mendatang

· Asas pelestarian lingkungan

Lingkungan alam dan buatan bernilai sejarah

Sustainable environmentally

Tingkat kematangan urbanisasi:

Kota siap menerima arus perpindahan orang dan orang siap untuk tinggal di kota.

Proses teknis pembangunan

· Mulai dari tahap rencana sampai pelaksanaan

· Melibatkan stakeholder berbagai disiplin ilmu

Proses non teknis pembangunan

· Mulai dari tahap kebijakan sampai pelaksanaan

· Melibatkan stakeholder dari berbagai sektor (pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dst)

1) Pembangunan untuk semua masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

2) Pembangunan untuk seluruh masyarakat, menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang lemah ekonomi, lemah fisik (ibu, balita, manula, cacat), lemah non-fisik (kebebasan berpikir, beragama, berbudaya, bersuara) agar accessible dan affordable;

3) Pembangunan untuk masyarakat generasi mendatang yang ramah lingkungan alam (titipan generasi mendatang) dan buatan (warisan nenek moyang);

4) Urbanisasi (penduduk desa menuju kota, desa menjadi kota, kota yang berkembang, penduduk siang vs penduduk malam)

5) Dualistik kehidupan kota (ciri-ciri desa yang ada di kota, orang kota dengan cara hidup seperti di desa)


1.5. Sistem manajemen untuk infrastructure

Manajemen: suatu proses untuk memanfaatkan sumber daya manajemen yang terbatas untuk mencapai tujuan tertentu.

Sumber daya infrastruktur (5M):

1) Men (manusia)

2) Materials (bahan)

3) Machines (peralatan/mesin)

4) Methods (cara kerja/metode)

5) Money (modal/kapital)

Proses sistematik memanfaatkan sumber daya

1) Perencanaan investasi (investment planning);

2) Perancangan (designing);

3) Pelaksanaan konstruksi (construction);

4) Pemakaian/penggunaan (operation), pemeliharaan (maintenance);

5) Pemantauan (monitoring) dan evaluasi (evaluation) tingkat pelayanan infrastruktur.

Sistem manajemen pemeliharaan

Sistem manajemen operasi

Sistem pendukung keputusan

Sistem manajemen kerja & organisasi

Rencana dan program kerja

Kepala Pengoperasian

Budget

Sistem manajemen finansial

Sistem manajemen proyek

Sistem infrastruktur

Gb.1.1. Sistem Manajemen Infrastruktur dan Subsistem

Tabel 1.1. Elemen-elemen Sistem Manajemen

Perencanaan

Pengorganisasian

Pengarahan

Pemantauan

Efektivitas:

Rencana

Program

Pembiayaan

Efektivitas

Struktur

Organisasi

Kepemimpinan dan

Pengambilan

Keputusan

Sistem manajemen

Pemeliharaan

Quality Control

Evaluasi Program

Yang berjalan

Sistem pendukung

Pengambilan

Keputusan

Efektivitas

Manajemen

Pengoperasian


1.6. Mengatur kapital dan pengoperasian

Needs-assessment planning process steps:

1) Identifikasi lingkup analisa: daerah geografi, tipe infrastruktur, kerangka waktu, keterlibatan pelaku dalam proses;

2) Pendataan infrastruktur eksisting;

3) Kondisi ‘assess’ infrastruktur eksisting;

4) Identifikasi tren masa lalu/sebelumnya, tingkat pelayanan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi tren;

5) Prakiraan pola pertumbuhan masa datang;

6) Estimasi kebutuhan investasi, termasuk rehabilitasi, rekonstruksi, dan fasilitas baru untuk antisipasi pertumbuhan kebutuhan;

7) Identifikasi tingkat pendapatan yang memungkinkan;

8) Mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan dan antisipasi kemungkinan kelangkaan dana/pendapatan.

Aset Infrastruktur:

Transportasi

· Transportasi darat (jalan, jembatan, terowongan, jalan rel);

· Transportasi udara (bandar udara, heliports, fasilitas darat, ATC);

· Jalan air dan pelabuhan (kanal pelayaran, pelabuhan, dok kering);

· Fasilitas intermodal (terminal KA/pesawat udara, terminal truk/ pelabuhan/ kereta)

· Mass transit (subways, bus transit, light rail, monorails, platforms/ stasiun).

Air dan Air Limbah

· Penyediaan air bersih (stasiun pompa, pengolahan, pipa utama, perlengkapan mekanikal/elektrikal);

· Struktur (dam, diversion, terowongan, saluran air);

· Distribusi air agrikultur (irigasi, kanal, sungai, pintu air);

· Gorong-gorong (pipa utama, septic tank, fasilitas pengolahan, penampung sementara).

Manajemen limbah (pengurugan, pengolahan, fasilitas daur ulang)

· Limbah padat;

· Limbah berbahaya dan beracun;

· Limbah nuklir.

Produksi dan distribusi energi

· Pembangkit Tenaga Listrik (air, uap, gas, minyak, batu bara, dlsb);

· Distribusi listrik (jaringan transmisi tegangan tinggi, substasiun, sistem distribusi, pusat kontrol energi, fasilitas perbaikan dan pemeliharaan);

· Jaringan pipa gas (produksi gas, jalur pipa, stasiun kontrol, tangki penyimpan, fasilitas perbaikan dan pemeliharaan);

· Produksi minyak bumi (stasiun pompa, instalasi penyulingan, jalan);

· Distribusi hasil minyak bumi (terminal dan tangki penyimpan, jaringan pipa, stasiun pompa, fasilitas pemeliharaan);

· Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (reaktor nuklir, stasiun pembangkit tenaga, fasilitas pembuangan limbah nuklir, emergency facilities).

Bangunan

· Bangunan tinggi – residental/komersial (struktur, utilitas, kolam renang, pengamanan, akses permukaan, parkir);

· Bangunan publik (sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, polisi, penjara, balai kota, pemadam kebakaran, gedung pos, fasilitas parkir);

· Kompleks multiguna (koloseum, amphiteater, pusat konvensi, kompleks peribadatan, pusat-pusat kegiatan);

· Kompleks olah raga (indoor, outdoor, stadion)

· Fasilitas perumahan (publik, swasta)

· Fasilitas manufaktur/pergudangan

· Hotel dan kegiatan komersial (hotel, motel, unit persewaan, club house, mal, bioskop)

Fasilitas rekreasi

· Taman dan tempat bermain (jalan, parkir, fasilitas rekreasi, kantor, kolam renang, ornamen/monumen, area piknik)

· Danau dan olah raga air (jalan, parkir, area piknik, marina)

· Pusat rekreasi/kasino (jalan akses, bangunan, restoran, fasilitas keamanan, struktur)

Komunikasi

· Jaringan telekomunikasi (switching centers, kabel distribusi, pusat pengolah data, pembangkit listrik, bangunan, tower, repeater)

· Jaringan televisi/televisi kabel (stasiun produksi, fasilitas transmisi, kabel distribusi

· Jaringan satelit (satelit, pusat kontrol bumi, sistem komunikasi, penerima)

· Jaringan informasi (sistem distribusi, piranti lunak/keras, CPU, sistem offline/online, sumber informasi, media backup, penyimpan)


1.7. New direction needed in capital management (additional)

Otonomi Daerah di bidang manajemen pengembangan dan pemeliharaan Infrastruktur

Strategy 1: Better identify capital needs and priorities, to screen out marginal needs and to make the best use of available funds.

1) Establish a facility condition assessment process to obtain on a regular basis information of major facilities within the jurisdiction;

2) Create and maintain a comprehensive inventory of facilities;

3) Encourage interagency cooperation to undertake joint maintenance work and joint inventory;

4) Start small and develop your inventory system as demand for it becomes clearer;

5) Encourage agencies and central staff to evaluate a variety of maintenance strategies;

6) Encourage operating agencies to reduce their dependance on crisis maintenance and on automatic maintenance without need;

7) Periodically scrutinize maintenance rules of thumb, such as repair or replacement cycles;

8) Resurrect preventive maintenance as a major maintenance strategy;

9) When the need for a facility is in question, consider abandonment or turnover to the private sector;

10) Require agencies to identify instances of deferral of planned maintenance activities; identify reasons for the defferal, and provide an estimate of the consequences of the deferral;

11) Require that each major maintenance decision by an agency be backed by an economic comparison of alternatives;

12) Be sure that agencies consider life-cycle costs when deciding on maintenance actions;

13) Require that major new, replacement, or rehabilitated facilities be designed for maintainability;

14) Require that all capital budget proposal submissions include backup information on the potential effects of each proposal on service quality;

15) Incorporate a more formal, systematic way to consider new maintenance technology when examining maintenance options;

16) Require a systematic process for reviewing capital proposals;

17) Require that information on capital proposals be provided according to a preselected set of evaluation criteria so that the proposals can be more easily compared;

18) Require that all requests for capital improvements identify impacts on the operating budgets.


Strategy 2: Build community support for facility maintenance and repair and reinvestment.

19) Initiate a joint public-private investigation of the jurisdiction’s facilities and need for future action;

20) Involve citizen public-private representatives in various parts of the capital facility project review and selection process;

21) Use the evidence provided on proposals to help market those proposals – such as evidence that a proposal will improve service quality or reduce future costs;

22) Encourage operating agency heads to improve their communications about the capital budget with central, administrative, and elected officials.

Strategy 3: Identify financing options, find new revenue sources, or reorganize the local revenue system so that it provides a stable sources of revenues to maintain and replace basic facilities.

23) Estimate the local “capital financing gap”;

24) Make aggressive use of the pricing system to finance capital investments;

25) Make full use of revenue bonds for capital financing;

26) Modify local institutional arrangements, if necessary, to achieve full application of user pricing, for example, by use of enterprise funds or independent authorities;

27) Dedicate specific tax revenues to capital investment or capital maintenance to provide a more stable source of financing;

28) Look for new ways to cooperate with the private sector and the business community in capital provision and capital financing;

29) Finance capital facilities in part or in whole by requiring private developers to install such facilities;

30) Use the same public-private cooperative efforts that are used for capital financing to gain support for capital bond issues.


1.8. Infrastruktur Wilayah (Nasional dan Regional)

1) Transportasi: pelabuhan hub internasional/internasional dan nasional; ALKI; bandara internasional, nasional, regional; jaringan jalan nasional; jalan tol; terminal regional; Angkutan Sungai dan Penyeberangan; jaringan jalan kereta api dan stasiun

2) Sumber air baku (Sistem DAS) dan sistem irigasi

3) Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu

4) Jaringan distribusi listrik, energi, gas

5) Jaringan telekomunikasi nasional dan regional

6) Infrastruktur kawasan perumahan (Kasiba/Lisiba BS)

7) Tempat Pembuangan Sampah Akhir

8) Infrastruktur perindustrian skala internasional/nasional/regional

9) Infrastruktur perdagangan dan jasa skala regional

1.9. Infrastruktur Kota

1) Transportasi: jaringan jalan perkotaan; jalan tol; terminal/subterminal perkotaan; sistem angkutan umum massal

2) Sistem distribusi air bersih perkotaan

3) Sistem drainase perkotaan

4) Sistem air limbah perkotaan

5) Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu

6) Jaringan distribusi listrik perkotaan

7) Jaringan telekomunikasi

8) Tempat Pembuangan Sampah Sementara/Akhir

9) Infrastruktur kawasan perumahan (Lisiba)

10) Infrastruktur kawasan industri

11) Infrastruktur kawasan perdagangan dan jasa


Responses

  1. waa…terima ksh infonya…
    sangat membntu….b^_^d

  2. nice …
    daftar pustaka nya ko ga ada ya????

  3. thanks…good information…

  4. thanks for information


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: